Kearifan Budaya Lokal Pulau Jawa (Wayang)

April 27, 2013 at 1:15 am (Uncategorized)


1. Pendahuluan

downloadWayang adalah salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

Asal usul dan perkembangan wayang tidak tercatat secara akurat seperti sejarah. Namun orang selalu ingat dan merasakan kehadiran wayang dalam kehidupan. Wayang akrab dengan masyarakat sejak dahulu hingga sekarang, karena memang wayang salah satu buah usaha budi bangsa Indonesia. Wayang tampil sebagai seni tradisional, dan merupakan puncak budaya daerah.

Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.

 

2. Pembahasan

Pada zaman kuno ketika nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut animisme dan dinamisme. Dalam alam kepercayaan animisme dan dinamisme ini di yakini roh orang yang sudah meninggal masih tetap hidup, dan semua benda itu bernyawa serta memiliki Roh-roh itu bias bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungau, gunung, dan lain-lain. Paduan dari animisme dan dinamisme ini menempatkan roh nenek moyang yang dulunya berkuasa, tetap mempunyai kuasa. Mereka terus dipuja dan dimintai pertolongan.

Untuk memuja roh nenek moyang, selain melakikan ritual tertentu mereka mewujudkannya dalam bentuk fambar dan patung Roh nenek moyang yang di puja ini di sebut “Hyang” atau “Dahyang”. Orang bias berhubungan dengan para Hyang ini untuk meminta pertolongan dan perlindungan, melalui medium yang di sebut “Syaman”. Ritual pemujaan nenek moyang, Hyang dan Syaman inilah yang menjadi asal mula Pertunjukan Wayang. Hyang menjadi Wayang, ritual kepercayaan itu menjadi jalan pentas dan Syaman menjadi Dalang. Sedangkan ceritanya adalah petualangan dan pengalaman nenek moyang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa asli yang hingga sekarang masih di pakai. Jadi wayang itu berasal dari ritual kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia di sekitar tahun 1500 SM.

Masuknya agama islam di Indonesia pada abad ke-15, membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Begitu pula wayang telah mengalami masa pembaharuan. Pembaharuan besar-besaran, tidah saja dalam bentuk dan cara pergelaran wayang, melainkan juga isi dan fungsinya. Berangkat dari penambahan nilai-nilai yang di anut, maka wayang pada zaman Demak dan seterusnya telah mengalami penyesuaian zamannya. Bentuk wayang yang semula realistik proporsional seperti tertera dalam relif candi-candi, di stilir menjadi bentuk imajinatif seperti wayang sekarang ini. Selain itu banyak sekali tambahan dan pembaharuan dalam peralatan seperti kelir atau layar, blencong atau lampu, debong yaitu pohon pisang untuk menancapkan wayang dan masih banyak lagi.

Lewat pertunjukkan wayang melalui tokoh serta ceritanya mempunyai peran dalam pembinaan dan pendidikan untuk membangun karakter bangsa.Karena wayang menjadi salah satu kekayaan tradisi bangsa Indonesia,sudah seharusnya dilestarikan dan dimanfaatkan dalam pembentukan budaya bangsa yang akan jadi potret orang Indonesia sampai kapanpun.

Nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam pewayangan selalu mengajak masyarakat untuk berbuat baik dan menhindari kejahatan,serta menanamkan kepada masyarakat semangat “amar ma’ruf nahi mungkar” atau istilah dalam pewayangan “memayu hayuning bebrayan agung”,sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing.

Dalam tokoh perwayangan Abiasa adalah tokoh yang patut di teladani karena paada waktu ia menjadi penguasa di negeri Astina selalu mencintai dan memberi perhatian kepada rakyatnya,memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten,memiliki visioner dan integritas yang tinggi,sehingga ia dicintai dan dipercaya oleh pengikutnya.

Dalam menjalankan kepemimpinan hendaknya berlandaskan pada kepemimpinan “Hasta Brata” yang terdapat 8 (delapan) laku nilai-nilai watak kepemimpinan yang meniru sifat-sifat keutamaan alam semesta,yaitu:

  1. Bumi yaitu seorang pemimpin harus setia memberi kebutuhan-kebutuhan hidup kepada siapa saja,sabar(bumi sebagai sumber kehidupan).
  2. Air yaitu pemimpin harus selalu turun ke bawah(rakyat) untuk melihat dan memberi kesejukan serta tidak menempatkan diri lebih tinggi dan lebih rendah daripada siapapun,karena air bertabiat rata.
  3. Angin yaitu pemimpin harus sanggup menghembus siapa saja tanpa pandang bulu dan tanpa pilih kasih.
  4. Bulan yaitu pemimpin harus dapat menerangi siapapun yang sedang kegelapan sehingga dapat memberikan kesejahteraan,keindahan dan harapan.
  5. Matahari yaitu pemimpin harus memberi petunjuk sebagai sumber kekuatan yang menghidupkan.
  6. Samudra yaitu pemimpin harus memberi kasih sayang dan kebebasan tak terbatas,karena samudra luas dan tak bertepi.
  7. Gunung yaitu pemimpin harus kukuh dan kuat untuk melindungi rakyatnya.
  8. Api yaitu pemimpin harus mampu membakar dan memberi kehangatan(mampu memberantas kejahatan dan memberi kenikmatan).

 

3. Kesimpulan

Kearifan Budaya lokal merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya, dapat bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek-moyang, atau budaya setempat, yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya.

Seperti hal nya wayang yang memilika banyak nilai adat-istiadat, petuah nenek-moyang, nilai-nilai agama yang menjadikan wayang sebagai salah satu Kearifan Budaya di daerah Jawa.

 

4. Daftar Pustaka

http://cahcepu.com/blog/wayangkulit/ : 26 April 2013, 22:38 WIB

http://www.wayangpedia.com/sejarah-wayang : 26 April 2013, 22:30 WIB

http://id.shvoong.com/books/1945041-nilai-nilai-kearifan-budaya-wayang/ : 26 April 2013, 22.57 WIB

http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang : 26 April 2013, 23.10 WIB

http://hippsi.wordpress.com/2012/08/09/147/ : 27 April 2013, 00.21 WIB

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: